Kamis, 23 November 2017

Abbusive

Sangat memberatkan hati saya saat mendengar kata- kata tersebut. Saya akan tiba- tiba menjadi orang yang sangat sensitiv dan meradang. Reason semua orang juga akan bermacam - macam saat mendengar kata tersebut, and sure,  most of them akan berlomba - lomba ber empati meskipun mereka mungkin tidak merasakannya sendiri.
Saya memang tidak melihat langsung kejadian abbusive yang paling dekat dengan saya when I was 16 an, tapi melihat keadaaan ibu saya , tentu saja saya mengalami beberapa WOW yang memproses saya sedemikian rupa. kondisi psikologis saya yang serasa roller coaster..hehheheheh)
ahhh....defense mechanism saya pada waktu umur 16 an s,d 23 an (laamaa ya sembuhnya? hehhee) namun itu membentuk saya menjadi pribadi yang pada waktu itu adalah pragmatis dan sangat tidak sensitiv. saya benar- benar orang yang ga bisa nangis melihat kejadian sedih (biasa aja kata saya waktu itu), saya menjadi orang yang tidak peduli, keras...dan sangat tidak mau untuk berkomitmen, padahal saat itu saya sangat membutuhkan orang untuk merangkul saya dan melindungi saya, dan hampir2 saya pecaya bahwa kebaikan orang itu hanya sesaat..hadeeeeeeehhh dan  saya merasa bisa melakukan semua sendiri pada saat itu. ( maafkan saya Ya Rabb..)
time goes by..dan I realized something..Dimanapun berada, para pelaku abbusive adalah orang yang sedang sakit, they need some help also...mereka membutuhkan sebuah 'warm hugh' yang akan menghangatkan hati mereka sehingga akan 
merasakan kebaikan dan cinta dalam semua hal, membuat mereka akan berkata- kata lebih baik dan akan mencintai dengan baik, karena I belive akan setiap dua sisi koin yang ada pada diri manusia...between evil and good..but there must be GOD's kindness in every human being....
ah..kenapa saya jadi serius begini ya? sok ngerti psikologis pula..hehehhehe.entahlah, saya hanya meminta kepada Yang Maha membolak - balikkan hati saya agar selalu hangat dan nyaman buat siapapun...




Tidak ada komentar:

Posting Komentar