Kamis, 04 Oktober 2018

Aku Pergi

Ruangan ini tambah semakin panas kurasa, kipas angin kecil yang terpajang di ujung lemari tidak bisa mengobati gerah. Mataku memang tertuju pada pekerjaan yang ada di depanku.  Ku lirik sebelah kananku, wajah yang mampu membuatku terjaga semalaman itu tampak tertidur pulas, namun aku yakin, gerah ruangan pasti akan membangunkannya sebentar lagi.  Diskusi aku dengannya satu jam yang lalu memang melelahkan, setelah panjang membahas kata 'kita' , sampai pada cerita akan pekerjaan yang tidak ada habisnya diselingi dengam sedikit keluhan.
Bersama dengannya adalah hal yang membuatku lupa waktu dan fokusku, detik bersamanya sangat mengalun  merdu seperti muda yang dilanda cinta. seperti yang dia katakan tadi

" emang ini cinta ? aku yakin engga " katanya sambil melepas kaca matanya
" lha menurutmu opo lah,,?" kataku balik nanya sambil menahan nafas "
" Yo aku ga tahu, intinya sih ga usah pake perasaan "
" siap 86.." kataku tersenyum sambil mencerna apa yang dia maksud, meskipun otaku mengirim pesan bahwa asam lambungku  naik

Kembali jariku mencoba mengerjakan di depan mataku, namun perkataanya tadi mengangguku, dan akhirnya aku rapikan meja. Hausku aku tuntaskan dengan sebotol air mineral sisa dia yang sedari tadi memang belum ada tanda -tanda untuk bangun.
Dengan diam aku beranjak ke ujung ruangan, membawa tas coklatku dan ku langkahkan kaki menuju pintu. Kembali aku lihat rak sepatu, terjajar rapih sepatu kami berdua, yang aku yakin tidak akan berada di rak yang sama selamanya. Segera aku ambil sepatuku dan ku tutup pelan agar tidak menganggu tidurnya.


Aku pergi
semoga warasku segera kembali
Tetaplah pada mimpimu,
yang aku yakin tidak ada namaku



Karawang, September 2018