Kamis, 20 Juni 2019

Jasmine dan Rajah : Kekuatan dalam kecantikan




Sudah menonton film Aladdin tahun 2019 ini ? . Apa yang dirasakan? keren, seru, haru ? atau mengingat film Aladdin sebelumnya di tahun 90’s?  Pengen naik karpet terbang? atau malah ada yang asyik terhanyut nyanyi di tengah pertunjukan?.  Sebagai angkatan 90’s an, saya sih salah satunya yang dengan pe-de nya, di tengah pertunjukan saya  ikut bersenandung lagu klasik Aladdin yang dulu di nyanyikan Lea Salonga dan Brad Kane pada jamannya, sampai sebelah saya  ngliatin aneh gimana gitu..hehhhehehe.  

 a whole new world..the new fantastic point of view
 A whole new world
 A new fantastic point of view
No one to tell us no
Or where to go
Or say we're only dreaming
A whole new world .

Lagu sound track yang melegenda itu sekarang dinyanyikan oleh  Naomi Scoot  dan Mena Massoud sang pemeran, dan Zayn Malik dan Zhavia Ward juga tidak ketinggalan didapuk untuk menyanyikan official soundtracknya. Lagunya memang easy listening dan membuat semua orang akan ikut bersenandung.

Bagaimana dengan kisahnya ? Kisah legenda cerita seribu satu malam itu memang tidak akan lekang di makan waktu, dengan pakem yang sama, Tentang Aladdin, dan Putri Jasmine, lengkap dengan Jin dari lampu ajaib dan karpet ajaib. Hebatnya,  Disney bisa mengemasnya dengan penuh pesan moral yang keren dan mengena, meski sudah terpatok pakem, dan sudah buka rahasia umum bahwa Princess yang ditampilkan Disney memang mempunyai brain, beauty dan behaviour. Sebut saja dari Belle yang cerdas, Mulan yang tangguh, Moana sampai kepada Jasmine.

Jasmine di karakterkan sebagai seorang yang cantik, tapi sangat tegas dan pemberani, tidak silau dengan hadiah –hadiah permata nan bling – bling itu, dan hadiah – hadiah lainnya.   Dan, yang menarik perhatian adalah hewan kesayangan Jasmine, Rajah. Rajah diceritakan adalah seekor adalah seekor singa yang tertinggal  dari rombongan sirkus saat di Agrabah. Rajah akhirnya menjadi hewan peliharaan Jasmine yang sangat melindungi putri tersebut.

Seorang putri biasanya identik dengan cantik dan lemah lenbut, demikian pula dengan wanita pada umumnya. Hewan peliharaan pun biasanya juga yang lazim, misalkan kucing, kelinci atau hewan jinak lain.Bagaimana dengan Jasmine dan singa nya ? memang tidak biasa apabila seorang putri cantik dan lembut tapi memelihara singa.sereeem lah gaess,,,ye kan? 

Singa identik dengan lambang kekuatan dan kekuasaan, terus kenapa Jasmine malah bersahabat dengan Singa? Hewan buas yang mengerikan, pemakan daging dan siap marah setiap saat,  kebanyakan setiap orang pasti akan juga merasa takut apabila berhadapan dengan binatang ini.  Namun, ada beberapa hal yang bisa di sampaikan saat melihat kedekatan antara Jasmine dan Rajah, yang bisa mematahkan konsep tentang wanita

.   1. Jasmine sangat berani dan kuat, dibalik kecantikannya, dia berani memelihara Rajah, yang notabene adalah hewan buas yang ditakuti banyak orang.  Hal itu menjadikan Jasmine menjadi sosok yang berani juga menghadapi Jafar, si penyihir. Dengan tegas juga dia mengatakan kebenaran.

2  2. Wanita itu adalah pengendali. Rajah yang kuat dan terkenal sebagai hewan pemangsa, namun bisa d kendalikan oleh Jasmine. Kendali  Jasmine sangat kentara, Rajah akan selalu menurut apa perkataan Jasmine

3  3. Wanita itu penyayang tanpa syarat. Dengan tidak mempertimbangkan kodrat Rajah sebagai hewan buas, Jasmine dengan penuh kasih sayang memelihara Rajah

Ehmm...jadi apakah sebagai wanita kita masih bisa dikatakan sosok lemah, hanya berkutat dengan perhiasan dan segala kemewahan?. Yang ada, sebenarnya kekuatan dan kendali itu ada pada kita sebagai wanita, dengan senjata yang dinamakan ‘ cinta tanpa syarat’. Dengan cinta tanpa syarat dan lemah lembut yang kita miliki, di situlah tersimpan kekuatan dahsyat,  untuk kita menghadapi dunia. Jadi, masih mau menjadi wanita yang ‘cengeng’ ala –ala? Hehehhe...






Kamis, 13 Juni 2019

Tol atau tidak ?


“ Mau lewat mana? Tol apa jalan biasa”?  tanya saya kepada pak Suami sesaat setelah mobil kami keluar dari gang rumah adik kesayangan kami. ⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣
⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣
“ Tol  aja dulu sampai Pemalang, abis itu baru lanjut lagi di Palimanan...ah, ga mau lewat cikampek, muter aja kita kewat Ciasem, nanti nembus ke Karawang...Pasti Cikampek  ke Klari nya maceeeeet banget ber jam – jam ” kata beliau konsen memegang setir sambil menjelaskan rute kita nanti.⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣
⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣
“ oh Iya, kita mau mampir dulu kan mau liat bayi.., eh iya bener yah, kita lewat Ciasem aja, tiap taun pasti macet ya....."  kata saya girang karena  di arus balik ini kita akan sekalian menengok keponakan baru yang baru lahir. ⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣
⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣
Pertanyaan yang sama saya tanyakan waktu  mudik kemarin, dan balik sekarang. Iya, perjalanan mudik dan balik memang punya cerita sendiri. Kami yang sudah terbiasa akhirnya memang harus tahu’ trick and trick nya ‘ saat mudik,  ga hanya memilih ‘soundtrack ala ala ’ untuk menikmati perjalalan saja biar ga bete, tapi yang penting adalah pemilihan dari  tol atau non tol, jalan alternative, memilih rest area yang tidak begitu ramai, sampai harus siaga mencari tempat saat Pak Suami tiba – tiba nanti mengantuk. ⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣
⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣
Biasanya, mudik perjalanan kita by tol hanya empat jam, namun mudik kali ini kita berhasil melampaui  hampir sebelas jam. Baliknya? Kita berhasil menembus 10 jam, itupun karena lewat jalur alternative dan non tol,   agak lama tapi lancar karena plus mampir tipis - tipis.⁣⁣⁣⁣ Tol memang mempercepat perjalanan, mempersingkat waktu kalau kondisi tidak macet.⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣




⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣
Lewat tol atau tidak memang menjadi pilihan masing - masing, saya mah fleksibel, ga mau ngitung, yang penting saya mah ngikut aja lah Pak Suami mau bawa saya lewat mana, karena tujuan utama ya rumah kami, iya kan? heheheehe..⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣
⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣
Lewat tol tentu saja menyenangkan aksesnya, apabila kita melewati pagi hari, pemandangan indah ini seperti di gambar ini akan tersaji depan mata kita ( kalaau ga macet lho yaa..hehhehe) . Ga enaknya tentu saja biaya tol yang lebih mahal daripada biaya bensin gaeeesss..hehehhe.⁣.apalagi kalau macet,banyak yang bilang ' udah bayar mahal teteeeeup macet' hehhee. Tapi, setidaknya, sistem one way dan kontra flow kemarin membantu sih...⁣⁣
⁣⁣⁣
Saya? saya mah ga akan ribet mengkaitkan tol dengan pesta 1 dan 2 kemarin⁣, yang penting nyaman dan nyampe rumah. Biar saja pragmatis kedengarannya, namun saya memang ga mau 'rempong' dengan hal yang begini, toh semua hal pasti ada plus minusnya, tinggal bagaimana kita menyikapinya.⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣
⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣
Mudik atau balik lewat jalan biasa atau non tol? ' no problemo ' kalau bagi saya. Banyak hiburan kok di jalan non tol itu. Saya bilang sih menyenangkan, karena beberapa hal. Pertama, saya akan se semangat itu melihat ramainya kendaraan bermotor, seru loh...apalagi melihat tulisan - tulisan yang mereka buat sebagai atribut, sangat menginspirasi hehehehehe..⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣
⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣
Kedua, ⁣saya akan mudah menikmati ' jajajan ' sepanjang jalan kalau tetiba pengen.Secara, indo***** dan sejenisnya jumlahnya akan banyaaaak daripada yang ada di rest area yang ada di tol.⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣
⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣
Ketiga, kalau tetiba Pak Suami nguantuk, dengan mudah kita akan mencari tempat di pinggiran, ga perlu jauuuh kudu cari rest area.Cepaaaat kan?..⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣
⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣
Dan, ⁣rute Pak Suami kali ini  adalah 'mix' yang fleksibel antara tol dan non tol. Beliau ini ga percaya GPS⁣ yang keliatan 'biru', pas real nya tetiba 'merah'...⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣
⁣⁣⁣⁣⁣⁣
Jadi, kami  melewati rute tol atau non tol bermodalkan 'intuisi' dan pengalaman- pengalaman kami sebelumnya. Satu lagi, bantuan temen yang ada diperjalanan di depan kami sangat supportive buat kami, karena ' update' mereka tentang kondisi jalan lebih aktual ⁣sebagai petunjuk kami.⁣⁣⁣⁣⁣
⁣⁣⁣⁣⁣
Sekali lagi, Tol atau non Tol? kami maaaah fleksibel ajaa...lewati dengan penuh bahagia, menikmati s⁣egala kekurangan dan kelebihan setiap keputusan, karena kami yakin akan sampai rumah juga pada akhirnya, ga perlu 'kiri' bangettt lah..heheeehe.⁣Yang penting..ada lagu- lagu nya Mas Ariel di mobil..hehehe.⁣⁣
⁣⁣
⁣⁣
⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣
⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣
⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣

Sabtu, 08 Juni 2019

Om Budiman Memang Menawan, Kang Asep Herna Memang Menggoda

Saya tidak pernah membayangkan sebelumnya akan terlempar ke tempat terang ini, yaitu grup WA latihan menulis The Writers. Berawal dari pesan seorang sahabat jauh apabila ada kelas menulis selama bulan ramadhan. Kelas menulisnya terdiri dari dua belas sesi, yang dimentori  oleh Budiman Hakim dan Asep Herna. Awalnya, Ada beberapa kekhawatiran sebelum saya mengiyakan untuk mengikuti kelas tersebut.

Pertama, bayangan saya,pasti biayanya mahal,  karena secara setelah saya browsing,  nama besar Budiman Hakim dan Asep Herna yang memang sudah mempunyai nama besar di dunia tulis menulis dan periklanan, saya yakin ini bukan kelas menulis abal - abal. 

Kedua, saya bayangkan pasti kelas ini akan serius sekali dengan materi yang berat, pasti saya akan seperti anak bayi yang dipaksa jalan, alias tidak fun. Saya memang suka menulis, tapi tulisan saya memang tidak beraturan  dan selalu mentok di tengah jalan.  Takutnya, saya tidak akan bisa mencerna apa yang akan disampaikan.

Ketiga, saya membayangkan akan menjadi anak bawang yang tidak tahu apa - apa, mengingat skill saya belum apa - apa dalam menulis dibandingkan dengan anggota grup yang lain yang pasti sudah expert. 

Setelah mempetimbangkan, ternyata kekhawatiran saya yang tidak beralasan itu tidak seberapa dibanding dengan keinginan saya untuk belajar menulis. Keinginan saya untuk menulis dan berharap suatu saat nanti akan bisa menulis sebuah buku sangat klik dengan semboyan The Writers, sebelum mati, minimal buatlah satu buku.

Mengikuti kelas menulis ini ternyata sangat membuat saya berbeda dari saya yang sebelumnya. Pertama, semangat saya tambah menggebu,namun terarah saya harus mulai dari mana, atau gampangnya lebih terkonsep.

Kedua, yaitu menyembuhkan. Semua sakit  psikosomatis saya berangsur hilang, dan inu terapi yang sangat keren membuat saya menjadi lebih tenang.

Ketiga, tentu saja materi dan pematerinya yang ternyata sangat fun, mudah diikuti dan sangat keren. stimulan - stimulan  yang diberikan oleh Om Budiman langsung membuat saya terpesona, benar - benar membangunkan ide - ide kreatif yang setiap kita ternyata diberkahi oleh keterampilan kreatif ini. Demikian juga dengan materi Kang Asep, membuat saya yang miskin ilmu ini jadi tambah haus lagi dan lagi akan apa yang diberikan.

Keempat, banyak teknik penulisan dan copy writer yang diberikan, disertai dengan latihan dan real, jadi tidak cuma teori. Ini yang saya suka. Latihan - latihan yang tidak memaksa, namun mengena.

Kelima, teman - teman hebat di group ini sangat bersemangat dan supportive satu sama lain, aktiv dan saling memberi masukan untuk teman yang lain, inilah yang saya butuhkan, sampai kita berencana untuk membuat karya kolaborasi. Om Bud dan Kang Asep juga memberikan masukan yang sangat berarti dan kritis untuk setiap latihan kita yang membuat saya makin bersemangat.

Keenam,Biaya? bukan masalah lagi, ternyata biayanya ternyata seikhlasnya. Saya yakin, tujuan mulia Om Bud dan Kang Asep adalah untuk berbagi ilmu, bukan materi.

Dan, saya ketagihan kelas ini. Saya bertekad untuk mengikuti kelas ini selanjutnya, agar hidup saya tambah bersemangat.

Kamis, 30 Mei 2019

Bodoh

Namaku Kartika, rekan – rekan ku di kantor biasa memanggilku Tika. Di usiaku yang menginjak akhir tiga puluh ini, orang akan memandangku sebagai perempuan yang bahagia. Karier yang bagus, keluarga yang terlihat damai, kebebasan finansial dan teman – teman yang baik. Terkadang, anggapan –anggapan itu aku jadikan standar bahwa hidupku baik –  baik saja, sampai aku tidak tahu bahwa sebenarnya mungkin aku adalah orang yang paling bodoh dan tidak rasional di dunia. Terkadang, manusia memang menganggap dirinya koleris, padahal sejatinya mungkin dia melankolis, atau terkadang dia merasa  kuat, padahal lemah sejatinya.

“ Bintang..” Suara itu lembut aku dengar di telingaku, memotong sunyi diantara keheningan sepiring spagheti  dan segelas jus alpukat di depanku

Iya, memang begitu Alfa sering memanggilku. Aku tidak tahu mengapa dia memanggilku dengan nama itu. Tetapi, panggilan yang sering dia berikan itu mampu membuat aku merasa menemukan kembali kepingan puzzle yang hilang walaupun aku  merasa tidak terang seperti benda langit itu. Dengan intonasinya yang khas dan lembut tatapan di balik kaca matanya , jiwaku seperti terayun dalam perahu yang membuat semua kupu – kupu di perutku menari.

“ Bintang, kamu baik – baik saja  ?”  tanyanya

“ Iya,aku baik – baik saja  “

“ Tidak, kamu sedang memikirkan sesuatu, you’re hiding from something“  tanyanya penasaran.

Haruskah aku jujur padanya, bahwa aku sangat ingin menjelaskan bahwa seharusnya aku meninggalkan dia. Perjalanan lima tahun dengannya ini hanya tinggal menunggu waktu kapan akan berakhir. Aku tidak tahu siapa yang memulai terlebih dulu, saat kita bersama seperti ini, disitulah sebenarnya bencana.

“ Alfa…”

“ Iya..?”  tolehnya

“ sepertinya kita memang harus selesai “

“Maksudnya, kamu mau aku tidak pernah menghubungimu lagi, ? “  jawabnya dengan tatapan tajam

“Iyy….yya..”

“  Bintang, kamu yakin apa yang kamu katakan, kamu yakin bahwa dengan tidak menghubungiku dan aku tidak menghubungimu itu hal terbaik? “  tangannya perlahan meraih jari- jari ku yang tiba- tiba dingin. Genggaman tangannya biasanya akan menghangatkan disetiap semua dingin- dingin yang aku lalui, lebih hangat dari jaket yang dia tawarkan di  setiap aku berada di belakang kendaranya.

Kebodohanku  memang selalu datang saat bersama dengannya. Aku selalu kalah akan keinginan untuk meninggalkannya, dan kembali menghirup semua kebersamaan. Kembali lantunan pelan musik ini menjadi pengiring bendera putih atas tekad yang  aku tidak pernah akan bisa, entah sampai kapan.



****

Lobby  kantor sudah sepi,lampu –lampu sudah beberapa dimatikan.  Aku lihat,  jarum jam sudah di angka tujuh. Semua ini karena  laporan yang harus aku selesaikan membuatku menjadi orang yang  terakhir meniggalkan kantor. Segera  mungkin aku langkahkan kaki menuju tempat parkir, mengingat pesan Alfa tadi pagi untuk bertemu di tempat biasa.

“ Mbak Tika..?” tiba- tiba perempuan cantik itu turun dari mobil merah yang diparkir di sebelahku dan menghampiriku

“ Iya, saya? “ kataku kaget mengurungkan niatku untuk membuka pintu mobil.

“ Boleh saya bicara sebentar? Saya Aliena “ katanya seraya mengulurkan tangannya.

Perempuan itu memang cantik. Tidak begitu tinggi, namun sorot matanya dibalik  dandanan tipisnya dan harum parfumnya  mengisyaratkan bahwa dia adalah perempuan yang cerdas.

“ Iya Mbak, ada yang bisa saya bantu ?”

“ Saya ingin mbak melihat foto ini…” katanya sambil memberikan selembar foto. Aku yang masih bingung menerima selembar gambar itu.

“…Ini…..apa Mbak?..” Kataku kaget.

“ Ya..silahkan mbak lihat sendiri di foto ini, dan saya juga mau mengingatkan bahwa sudah seharusnya mbak kembali ke keluarga Mbak, tidak dengan laki – laki ini “ ungkapnya tajam.

Dengan gemetar aku terima foto itu.  Aku melihat gambar pasangan  yang sedang duduk berdua, dan aku tidak perlu menduga apa yang mereka telah lakukan. Namun, rengkuhan laki – laki yang di gambar itu membuatku sangat mengerti apa yang terjadi.  Jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya melihatnya. Aku sangat mengenal laki – laki itu.  Dengan mencoba mengumpulkan semua logikaku, aku  mengenali sosok perempuan di foto itu dengan perempuan yang ada di depanku.



“ Mbak Alien, ini foto anda bukan? “kata ku menegarkan hati

“ Betul sekali,dan saya yakin anda pasti mengenal laki – laki ini..”

“ Iya, ini Alfa rekan saya, dan saya pastikan anda bukan istrinya kan? Saya sangat mengenal istrinya Alfa” tegasku menutupi rasa gugupku

“ Mbak Tika, anda sudah tahu apa yang terjadi bukan? Sudahlah Mbak, jauhi dia, pikirkan kembali tentang lelaki yang tidak setia kepada keluarganya untuk beberapa wanita. Saya dan anda adalah sama, jangan sampai  anda kehilangan keluarga berharga anda“ katanya sambil tersenyum sinis dan membuka pintu mobil merahnya.

“ Mbak Alien, sebentar..” kejarku

“ Sudah Mbak, saya ada pekerjaan lain, saya harap Mbak mengerti “ .

Perempuan bernama Aliena yang cantik itu pergi begitu saja. Dia memang menarik, tapi kedatangannya yang tiba – tiba memberikan sebuah foto membuat dia seperti Alien dari planet lain yang mau menangkapku. Pintu mobil aku buka, pendingin ku nyalakan, namun hatiku masih melompat – lompat tidak karuan.

Bodoh adalah satu kata yang tepat untukku saat ini. Bagaimana aku masih bisa mencintai Alfa,  saat aku seharusnya mencintai orang –orang yang mencintaiku. Apakah aku sudah seharusnya merasa puas dengan apa yang aku miliki? Tapi,  mengapa aku masih tidak bisa membencinya ?.

****

Jam enam pagi dan kepalaku masih berat,sehingga aku enggan beranjak dari ranjangku,  tetapi getaran hape itu membuatku meraihnya.

“ Ya Hallo, ada apa Ki? “ jawabku setelah melihat sederetan nomer yang aku kenal.

“ Tik, Alfa…”

“ Iya, kenapa Alfa? “

“ Dia ditemukan di apartemennya sudah meninggal, penuh darah “

“Appaaaa…Ki, kamu serius Ki? “

“ Iya Tik, ini baru saja istrinya menelponku. Jadi, dia engga pulang ke rumah, tapi ke apartemen, dan dari semalem telepon ga diangkat – angkat.”

Mendadak mataku gelap, dunia serasa berputar dan jantungku berasa berhenti berdetak, memutar kembali kejadian semalam.

“ Tik…tika..kok diem? ..Tika…?.. terdengar suara sayup Kiki yang lama – lama menghilang.

Waktunya Ayam Jago



Matahari mulai pulang, namun tidak demikian denganku. Ini saatnya pergi. Bangun dari kasur tipis ini, dan memulai hari baru.
Biar sajalah ibu- ibu di gang sempit ini,besok bercerita. Tentu saja aku akan menjadi topik utama bagi mereka, dan akupun akan berpura bahagia karena telah memberikan diriku kepada mereka sebagai bahan perbincangan di tukang sayur.
Ku lihat jam dinding mulai bergerak ke angka tujuh, sangat cepat,secepat aku mandi kali ini. Tidak ada air hangat, karena memang gas belum terbeli, mengingat tadi sisa uang di dompet aku berikan kepada Ujang yang mengingatkan aku untuk membayar uang buku yang sudah lama menunggak tiga bulan, kalau tidak, bisa – bisa dia tidak bisa ikut ulangan.
“Biarlah, nanti malam ibu akan dapat uang lagi” kataku tadi pagi sambil mata setengah mengantuk membuka dompetku, dan samar aku lihat Ujang tersenyum sambil berpamitan dibalik seragam merah putihnya.
Sudah jam 8, ku lihat Ujang sedang asyik dengan bukunya, diterangi lampu 5 watt dikamar kecil ini.
“Ibu mau berangkat kerja?”tanya nya setelah melihatku di sampingnya.
“iya Nak” kataku.
Dengan lihai aku poleskan bedak tebal, alis dan lipstik merahku. Ku patutkan lagi bayangan di depan cermin dan mencoba tersenyum memikat.
“Nak, ibu berangkat ya, kamu tidur aja dulu, nanti kalo ayam jago sudah berbunyi,ibu pasti sudah pulang”
” Baik bu, hati- hati ” kata Ujang riang sambil menutup pintu.
Karawang, 15 nov 2018