Kamis, 30 Mei 2019

Bodoh

Namaku Kartika, rekan – rekan ku di kantor biasa memanggilku Tika. Di usiaku yang menginjak akhir tiga puluh ini, orang akan memandangku sebagai perempuan yang bahagia. Karier yang bagus, keluarga yang terlihat damai, kebebasan finansial dan teman – teman yang baik. Terkadang, anggapan –anggapan itu aku jadikan standar bahwa hidupku baik –  baik saja, sampai aku tidak tahu bahwa sebenarnya mungkin aku adalah orang yang paling bodoh dan tidak rasional di dunia. Terkadang, manusia memang menganggap dirinya koleris, padahal sejatinya mungkin dia melankolis, atau terkadang dia merasa  kuat, padahal lemah sejatinya.

“ Bintang..” Suara itu lembut aku dengar di telingaku, memotong sunyi diantara keheningan sepiring spagheti  dan segelas jus alpukat di depanku

Iya, memang begitu Alfa sering memanggilku. Aku tidak tahu mengapa dia memanggilku dengan nama itu. Tetapi, panggilan yang sering dia berikan itu mampu membuat aku merasa menemukan kembali kepingan puzzle yang hilang walaupun aku  merasa tidak terang seperti benda langit itu. Dengan intonasinya yang khas dan lembut tatapan di balik kaca matanya , jiwaku seperti terayun dalam perahu yang membuat semua kupu – kupu di perutku menari.

“ Bintang, kamu baik – baik saja  ?”  tanyanya

“ Iya,aku baik – baik saja  “

“ Tidak, kamu sedang memikirkan sesuatu, you’re hiding from something“  tanyanya penasaran.

Haruskah aku jujur padanya, bahwa aku sangat ingin menjelaskan bahwa seharusnya aku meninggalkan dia. Perjalanan lima tahun dengannya ini hanya tinggal menunggu waktu kapan akan berakhir. Aku tidak tahu siapa yang memulai terlebih dulu, saat kita bersama seperti ini, disitulah sebenarnya bencana.

“ Alfa…”

“ Iya..?”  tolehnya

“ sepertinya kita memang harus selesai “

“Maksudnya, kamu mau aku tidak pernah menghubungimu lagi, ? “  jawabnya dengan tatapan tajam

“Iyy….yya..”

“  Bintang, kamu yakin apa yang kamu katakan, kamu yakin bahwa dengan tidak menghubungiku dan aku tidak menghubungimu itu hal terbaik? “  tangannya perlahan meraih jari- jari ku yang tiba- tiba dingin. Genggaman tangannya biasanya akan menghangatkan disetiap semua dingin- dingin yang aku lalui, lebih hangat dari jaket yang dia tawarkan di  setiap aku berada di belakang kendaranya.

Kebodohanku  memang selalu datang saat bersama dengannya. Aku selalu kalah akan keinginan untuk meninggalkannya, dan kembali menghirup semua kebersamaan. Kembali lantunan pelan musik ini menjadi pengiring bendera putih atas tekad yang  aku tidak pernah akan bisa, entah sampai kapan.



****

Lobby  kantor sudah sepi,lampu –lampu sudah beberapa dimatikan.  Aku lihat,  jarum jam sudah di angka tujuh. Semua ini karena  laporan yang harus aku selesaikan membuatku menjadi orang yang  terakhir meniggalkan kantor. Segera  mungkin aku langkahkan kaki menuju tempat parkir, mengingat pesan Alfa tadi pagi untuk bertemu di tempat biasa.

“ Mbak Tika..?” tiba- tiba perempuan cantik itu turun dari mobil merah yang diparkir di sebelahku dan menghampiriku

“ Iya, saya? “ kataku kaget mengurungkan niatku untuk membuka pintu mobil.

“ Boleh saya bicara sebentar? Saya Aliena “ katanya seraya mengulurkan tangannya.

Perempuan itu memang cantik. Tidak begitu tinggi, namun sorot matanya dibalik  dandanan tipisnya dan harum parfumnya  mengisyaratkan bahwa dia adalah perempuan yang cerdas.

“ Iya Mbak, ada yang bisa saya bantu ?”

“ Saya ingin mbak melihat foto ini…” katanya sambil memberikan selembar foto. Aku yang masih bingung menerima selembar gambar itu.

“…Ini…..apa Mbak?..” Kataku kaget.

“ Ya..silahkan mbak lihat sendiri di foto ini, dan saya juga mau mengingatkan bahwa sudah seharusnya mbak kembali ke keluarga Mbak, tidak dengan laki – laki ini “ ungkapnya tajam.

Dengan gemetar aku terima foto itu.  Aku melihat gambar pasangan  yang sedang duduk berdua, dan aku tidak perlu menduga apa yang mereka telah lakukan. Namun, rengkuhan laki – laki yang di gambar itu membuatku sangat mengerti apa yang terjadi.  Jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya melihatnya. Aku sangat mengenal laki – laki itu.  Dengan mencoba mengumpulkan semua logikaku, aku  mengenali sosok perempuan di foto itu dengan perempuan yang ada di depanku.



“ Mbak Alien, ini foto anda bukan? “kata ku menegarkan hati

“ Betul sekali,dan saya yakin anda pasti mengenal laki – laki ini..”

“ Iya, ini Alfa rekan saya, dan saya pastikan anda bukan istrinya kan? Saya sangat mengenal istrinya Alfa” tegasku menutupi rasa gugupku

“ Mbak Tika, anda sudah tahu apa yang terjadi bukan? Sudahlah Mbak, jauhi dia, pikirkan kembali tentang lelaki yang tidak setia kepada keluarganya untuk beberapa wanita. Saya dan anda adalah sama, jangan sampai  anda kehilangan keluarga berharga anda“ katanya sambil tersenyum sinis dan membuka pintu mobil merahnya.

“ Mbak Alien, sebentar..” kejarku

“ Sudah Mbak, saya ada pekerjaan lain, saya harap Mbak mengerti “ .

Perempuan bernama Aliena yang cantik itu pergi begitu saja. Dia memang menarik, tapi kedatangannya yang tiba – tiba memberikan sebuah foto membuat dia seperti Alien dari planet lain yang mau menangkapku. Pintu mobil aku buka, pendingin ku nyalakan, namun hatiku masih melompat – lompat tidak karuan.

Bodoh adalah satu kata yang tepat untukku saat ini. Bagaimana aku masih bisa mencintai Alfa,  saat aku seharusnya mencintai orang –orang yang mencintaiku. Apakah aku sudah seharusnya merasa puas dengan apa yang aku miliki? Tapi,  mengapa aku masih tidak bisa membencinya ?.

****

Jam enam pagi dan kepalaku masih berat,sehingga aku enggan beranjak dari ranjangku,  tetapi getaran hape itu membuatku meraihnya.

“ Ya Hallo, ada apa Ki? “ jawabku setelah melihat sederetan nomer yang aku kenal.

“ Tik, Alfa…”

“ Iya, kenapa Alfa? “

“ Dia ditemukan di apartemennya sudah meninggal, penuh darah “

“Appaaaa…Ki, kamu serius Ki? “

“ Iya Tik, ini baru saja istrinya menelponku. Jadi, dia engga pulang ke rumah, tapi ke apartemen, dan dari semalem telepon ga diangkat – angkat.”

Mendadak mataku gelap, dunia serasa berputar dan jantungku berasa berhenti berdetak, memutar kembali kejadian semalam.

“ Tik…tika..kok diem? ..Tika…?.. terdengar suara sayup Kiki yang lama – lama menghilang.

Waktunya Ayam Jago



Matahari mulai pulang, namun tidak demikian denganku. Ini saatnya pergi. Bangun dari kasur tipis ini, dan memulai hari baru.
Biar sajalah ibu- ibu di gang sempit ini,besok bercerita. Tentu saja aku akan menjadi topik utama bagi mereka, dan akupun akan berpura bahagia karena telah memberikan diriku kepada mereka sebagai bahan perbincangan di tukang sayur.
Ku lihat jam dinding mulai bergerak ke angka tujuh, sangat cepat,secepat aku mandi kali ini. Tidak ada air hangat, karena memang gas belum terbeli, mengingat tadi sisa uang di dompet aku berikan kepada Ujang yang mengingatkan aku untuk membayar uang buku yang sudah lama menunggak tiga bulan, kalau tidak, bisa – bisa dia tidak bisa ikut ulangan.
“Biarlah, nanti malam ibu akan dapat uang lagi” kataku tadi pagi sambil mata setengah mengantuk membuka dompetku, dan samar aku lihat Ujang tersenyum sambil berpamitan dibalik seragam merah putihnya.
Sudah jam 8, ku lihat Ujang sedang asyik dengan bukunya, diterangi lampu 5 watt dikamar kecil ini.
“Ibu mau berangkat kerja?”tanya nya setelah melihatku di sampingnya.
“iya Nak” kataku.
Dengan lihai aku poleskan bedak tebal, alis dan lipstik merahku. Ku patutkan lagi bayangan di depan cermin dan mencoba tersenyum memikat.
“Nak, ibu berangkat ya, kamu tidur aja dulu, nanti kalo ayam jago sudah berbunyi,ibu pasti sudah pulang”
” Baik bu, hati- hati ” kata Ujang riang sambil menutup pintu.
Karawang, 15 nov 2018